MAKNA SUKSES
Setiap manusia pasti ingin sukses. Ada yang
ingin memperoleh kesuksesan dari usahanya, ada
juga sukses dengan karirnya, atau bahkan suskes
dalam membina rumah tangganya. Namun, masih
banyak dari kita yang belum tahu betul makna dari
sebuah kesuksesan. Bahkan sebagian besar orang
selalu mengkaitkan kesuksesan hidup dengan
keberhasilan secara finansial. Lalu, apa sih makna
dari kata sukses itu sendiri?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
sukses berarti berhasil; beruntung. Sementara menurut ensiklopedia
bebas Wikipedia, sukses didefinisikan sebagai suatu kehormatan atau
prestise yang dikaitkan dengan pencapaian suatu kedudukan
seseorang dalam status sosialnya.
Tapi apakah kata berhasil atau beruntung sudah cukup memuaskan anda
akan makna dari kata sukses itu sendiri? Jika arti dari kata sukses hanya
sekedar berhasil atau beruntung dari sisi finansial, maka boleh jadi hanya
sedikit sekali orang yang sukses di muka bumi ini. Semua orang lalu
akan berpendapat bahwa hanya orang-orang seperti Bill Gates lah orang
yang sukses. Dan jika melihat sukses dari segi karir, maka hanya orang-orang
yang bisa menduduki jabatan presiden, menteri atau pejabat tinggi negara
lainnya lah yang telah mencapai kesuksesan.
Namun ternyata makna sukses jauh lebih luas dari ulasan yang diuraikan
di atas. Setelah merenung dan memperhatikan serta bertanya-tanya kepada
banyak pihak, akhirnya penulis berkesimpulan bahwa seseorang dikatakan
telah sukses jika orang tersebut telah memberikan manfaat kepada dirinya
sekaligus kepada orang lain atau lingkungannya. Terlepas dari masalah
bahwa orang tersebut berhasil atau tidak, baik dari segi finansial,
karir dan sebagainya. Terlepas pula dari masalah bahwa orang tersebut
menjadi kaya atau tetap miskin, atau berhasil menjadi pejabat tinggi maupun
tetap menjadi pegawai rendahan. Pokoknya selama orang tersebut telah
memberikan manfaat bagi lingkungan dan dirinya, maka tidak ada kata
lain kecuali dikatakan bahwa orang tersebut telah sukses.
Untuk memperkuat hipotesa di atas, ada baiknya diberikan dua ulasan
contoh dalam kehidupan yang mudah-mudahan dapat memperkuat
argumen di atas.
Contoh Kasus Pertama :
Di sebuah desa terpencil hiduplah sebuah keluarga yang
dari seorang janda tua beserta seorang anaknya yang
sulung. Anak kedua, ke tiga dan ke empat telah hidup
berhasil di kota besar. Si sulung hanya berprofesi sebagai
petani meneruskan jejak ayahnya yang telah lebih dahulu
menghadap Sang Pencipta di kala si sulung dan adik-adiknya
masih kecil. Sementara ibunya sudah tidak sanggup lagi
bekerja di sawah.
Suatu ketika ada perbincangan antara janda tua tersebut dengan
salah seorang pemuka desa. Berikut potongan dari isi
perbincangannya :
Pemuka Desa : Ibu, kenapa kok anak sulung ibu hanya bekerja
sebagai petani, sementara adik-adiknya telah sukses di kota menjadi
dokter, insinyur dan pejabat tinggi di ibu kota? Apakah ibu tidak
kasihan melihat si sulung yang tidak sukses seperti adik-adiknya?
Janda Tua : Oh, tentu tidak. Bagi saya si sulung adalah anak saya
yang paling sukses. Karena berkat jasa dia lah, anak-anak saya
yang sekarang hidup di kota besar telah berhasil. Si sulung lah
yang telah membiayai sekolah adik-adiknya hingga lulus manjadi
sarjana dan dapat hidup mandiri.
Contoh Kasus Kedua :
Suatu ketika ada sebuah pesawat melintas di atas samudra yang
luas. Karena cuaca sedang tidak bersahabat, sehingga
menyebabkan pesawat tersebut lepas kendali dan akhirnya jatuh ke laut. Semua awak dan penumpangnya mati tenggelam kecuali
seorang penumpang yang berhasil selamat karena sebelum pesawat
tersebut tercebur ke laut, dia secara tidak sengaja terpental ke luar
pesawat dan akhirnya terapung-apung selama beberapa hari di tengah samudra. Sampai pada akhirnya dia terbawa ombak dan terdampar di
sebuah pulau kecil tak berpenghuni.
Setelah dia siuman, lalu berusaha mencari bantuan dengan
berkeliling pulau tersebut tidak memperoleh hasil, akhirnya dia
memutuskan untuk bertahan hidup dengan makanan seadanya
di pulau tersebut. Dia membangun tempat tinggal dari dahan dan
ranting seadanya. Dia makan dari tumbuhan dan hewan laut
sesuai kemampuan dia. Sampai akhirnya tidak terasa dia sudah
tinggal selama 5 tahun di pulau tersebut.
Selama masa bertahan hidup di pulau tersebut, dia tetap
menjaga keseimbangan alam di mana dia hidup. Dia tidak membunuh
hewan yang memang tidak dapat dia makan atau mengganggu dia. Dia
tidak merusak bebatuan dan tidak pula menebang pohon jika dia
tidak membutuhkan. Bahkan dia bercocok tanam dari biji-bijian
buah yang dia makan. Atau dengan perkataan lain, dia selalu
bersahabat dengan alam pulau tersebut. Sampai pada akhirnya,
dia tutup usia di pulau tersebut tanpa ditemani sahabat dan kerabat.
Dari kasus kedua ini, jika definisi sukses selalu berkaitan dengan
keberhasilan dan keberuntungan secara finansial, karir, dan
keluarga, maka hidup orang yang terdampar seperti di atas sangat
jauh dari kata sukes. Namun jika dilihat dari sudut pandang
keberhasilan dia dalam memberikan manfaat bagi lingkungan di
sekitarnya, maka orang ini dapat dipastikan sebagai orang sukses.
Jadi, akhirnya kita bisa merasakan bahwa kita yang mungkin hanya
bekerja sebagai kuli bangunan, atau penyapu jalanan, juga bisa
dikatakan sukses. Atau seorang tukang becak tapi dia berhasil
menyekolahkan anaknya hingga menjadi orang, juga bisa dikatakan
telah sukses. Sementara di sisi lain, seorang pejabat tinggi negara
yang lengkap dengan kekayaanya, tapi dia hanya membuat kesulitan
atau melakukan korupsi, tanpa memberikan solusi bagi kehidupan
orang banyak, maka dia belum dapat dikatakan sukses.
Pada akhirnya, marilah kita bersama-sama berintrospeksi, apakah kita
telah sukses? Apakah kehidupan yang telah kita lalui selama ini telah
memberikan banyak manfaat bagi lingkungan kita, atau justru malah
kita yang hanya mengharapkan manfaat dari lingkungan di mana kita
hidup.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
salam sukses . . . !!!
.jpg)





.jpg)


.jpg)